Minggu, 09 September 2007

Antara Perubahan Dan Kehidupan

Guru Geografi saya di SMP pernah bilang,"Hidup itu penuh perubahan.Yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri.". Saya setuju dengan statement ini, karena mau ga mau, sadar ataupun tanpa sadar, kita telah terkurung oleh busuknya perubahan.

Temen2 pasti pernah merasakan perubahan. Dari mulai yang kecil hingga yang spektakuler. Kebayang kan, klo ukuran badan kita g berubah dari lahir. Aneh banget klo sampe sekarang kita masih ga bisa menghitung hasil dari 2X3. Semua hal, baik diri kita maupun lingkungan selalu berubah seiring dengan pergantian waktu. Orang yang ingin menghentikan perubahan sama halnya dengan orang jenius yang ingin menghentikan laju waktu.

Tapi, waktu adalah pembunuh yang paling kejam. Ia mengintai perlahan dan membunuh dengan seksama. Waktu tak pernah mau mengalah dan tak juga mau berusaha mengerti. Sang waktu berteman baik dengan perubahan. Sifat darsa mereka sama, walau esensi mereka berbeda.

Begitu juga dengan hal yang telah kita alami. Contoh kecil (lagi), kasus yang ada di posting-nya Cahyono.

Saya benci mengakuinya, tapi terimalah, semua itu adalah siklus kehidupan. Siklus yang tak mungkin diubah oleh manusia yang tak lebih dari boneka Sang Pencipta.

Karena kita tahu, setiap ada awal pasti ada akhir..

Setiap ada kebahagiaan pasti ada kesedihan..

Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan..

Dan, setiap akhir menanti awal yang baru, di balik kesedihan selalu ada kebahagiaan, perjumpaan menunggu kembali setelah perpisahan berlalu.

Berat, saya juga tahu karena saya benci akhir,kesedihan,perpisahan,dan PERUBAHAN. Tapi itulah hidup. Itulah sandiwara yang harus kita lakukan sebaik mungkin sesuai peran yang telah ditentukan oleh Sutradara kita alias Yang Mahakuasa. Saya yakin, semua yang harus kita rasakan saat ini mampu kita lalui. Ingat, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang tidak sesuai dengan kemampuan kita.

Pada akhirnya, satu per satu dari kita akan menghilang. Kita akan berpulang pada Yang Mahasuci. Kita akan sendiri di alam kubur. Tanpa teman, orang tua, atau siapapun. Kita tak bisa mengandalkan orang lain. Semua kebersamaan yang kita nikmati di dunia tak lebih dari hal-hal yang semu.

Tapi, saya tetap merindukan kebersamaan sepuluh satu yang (mungkin) pernah ada.

Hanya satu keinginan saya. Meski kita harus melalui siklus kehidupan yang sangatlah berat dan akhirnya berpisah, semoga kita bisa bertemu kembali di Surga yang sama.

-bj-

Tidak ada komentar:

Bubar x1

Bubar x1
anak x1 '09 dan '10..x)